wa amanu wa hajaru wa jahadu …

April 26, 2006

Untuk Istriku-Untuk Suamiku, Deretan Kata Untuk Sang Pengantin

Filed under: Keluarga

Untuk Istriku

Pernikahan atau perkawinan
Membuka tabir rahasia
Suami yang menikahi kamu
Tidaklah semulia Muhammad SAW
Tidaklah setaqwa Ibrahim AS
Pun tidak setabah Ayyub As
Ataupun segagah Musa AS
Apalagi setampan Yusuf AS

Justru suamimu hanyalah pria akhir zama
Yang punya cita-cita
Membangun keturunan yang sholeh…

Pernikahan atau perkawinan
Mengajar kita kewajiban bersama
Suami menjadi pelindung, kamu penghuninya
Suami adalah nahkoda kapal, kamu navigatornya
Suami bagaikan balita yang nakal, kamu adalah penuntun kenakalannya
Saat suami menjadi raja, kamu nikmati anggur singgasananya
Seketika suami menjadi bisa, kamulah penawar obatnya
Seandainya suami masinis yang lancang
Sabarlah memperingatkannya

Pernikahan atau perkawinan
Mengajarkan kita perlunya iman dan taqwa
Untuk belajar meniti sabar dan ridha Allah SWt
Karena memiliki suami yang tidak segagah mana
Justru kamu akan tersentak dari alpa
Kamu bukanlah Khadijah, yang begitu sempurna didalam menjaga
Pun bukan Hajar, yang begitu setia dalam sengsara
Cuma wanita akhir zaman
Yang berusaha menjadi solehah
Amin…

Untuk suamiku

Pernikahan atau perkawinan
Menyingkap tabir rahasia
Istri yang kamu nikahi
Tidaklah semulia Khadijah
Tidaklah setaqwa Aisyah
Pun tidak setabah Fatimah
Apalagi secantik Zulaikha

Justru istrimu hnayalah wanita akhir zaman
Yang punya cita-cita
Menjadi sholehah…

Pernikahan atau perkawinan
Mengajar kita kewajiban bersama
Istri menjadi tanah, kamu langit penaungnya
Istri ladang tanaman, kamu pemagarnya
Istri kiasan ternakan, kamu gembalanya
Istri adalah murid, kamu mursyidnya
Istri bagaikan anak kecil, kamu tempat bermanjanya
Saat istri menjadi madu, kamu teguklah sepuasnya
Seketika istri menjadi racun, kamulah penawar bisanya
Seandainya istri tulang yang bengkok, berhatilah meluruskannya

Pernikahan atau perkawinan
Mengisyafkan kita perlunya iman dan taqwa
Untuk belajar meniti sabar dan ridha Allah SWT
Karena memiliki istri yang tidak sehebat mana
Justru…
Kamu akan tersentak dari alpa
Kamu bukanlah Rasulullah
Pun bukan pula sayyidina Ali
Karamallahuwajhah
Cuma suami akhir zaman
Yang berusaha menjadi soleh
Amin…

Andaikata Rasulullah Menjadi Tamu Kita

Filed under: free talk
Bayangkan apabila Rasulullah dengan seijin Allah tiba-tiba muncul mengetuk pintu rumah kita. Beliau datang dengan tersenyum dan muka bersih di muka pintu rumah kita, Apa yang akan kita lakukan? Mestinya kita akan sangat berbahagia, memeluk beliau erat-erat dan lantas mempersilahkan beliau masuk ke ruang tamu kita. Kemudian kita tentunya akan meminta dengan sangat agar Rasulullah sudi menginap beberapa hari di rumah kita. Beliau tentu tersenyum…….. Tapi barangkali kita meminta pula Rasulullah menunggu sebentar di depan pintu karena kita teringat Video CD rated R18+ yang ada di ruang tengah dan kita tergesa-gesa memindahkan dahulu video tersebut ke dalam. Beliau tentu tetap tersenyum…….. (more…)

April 25, 2006

Rahasia Huruf Al Quran

Filed under: free talk

Rahasia huruf yang terkandung dalam Alquran, secara tegas Rasulullah tidak pernah menjelaskan rahasia ini. Hanya saja beliau mengisyaratkan bahwa di dalam Alquran itu jika diringkas, inti Alquran itu adanya dalam surat Al Fatihah sehingga disebut ummul qur’an, … kemudian oleh ulama sufi di kembangkan menjadi suatu ilmu dalam mencari hakikat huruf atau firman ….

Mungkin cara yang ditempuh oleh para guru-guru sufi sering kali membuat bingung pengamat, sehingga mereka dianggap orang yang mengada-ada dalam beragama. Sebenarnya tidaklah demikian, … saya sendiri bukanlah penganut faham ajaran para sufi tentang rahasia huruf yang mereka kemukakan. Akan tetapi saya hanyalah orang yang mencoba mengerti methode yang di sampaikan sebagai pendekatan ilmu, … agar sang murid mudah memahami dalam arti hakikat. Bagi saya hal itu sah saja, karena di dalam memberikan pengertian arti tersembunyi sangatlah sulit, sehingga mereka mempunyai cara yang indah untuk memudahkan dalam memberikan arti rahasia ketuhanan dengan sederhana. Hal ini saya ungkapkan agar para pengamat tidaklah mencurigai ajaran para sufi ini.

Mari kita fahami rahasia huruf ini dengan pengertian kita sekarang… (more…)

April 21, 2006

Tentang Kehendak - 1

Filed under: Ruhiyah, Dakwah

Assalamualaykum, 

o        Apakah manusia memiliki kehendak?, atau semua berjalan sesuai kehendakNya?. Jika  manusia bisa berkehendak, bukankah berarti ada dua otoritas besar di  alam ?. Apakah tidak berarti bahwa sebenarnya ada banyak Dzat ?.

o        Satu  lagi, mengapa Alloh begitu dahsyat siksanya ? padahal filosof barat  menyebutkan bahwa dzat (forma) tertinggi  adalah kebaikan ?. Jadi  bagaimana jika masih ada dzat yang baik dan dzat yang kejam siksanya ?



Sebenarnya Allah sudah meletakkan Kehendak-Nya di hadapan setiap orang. Di depan kita masing-masing, sudah ada ruangan yang berisikan berbagai kehendak Tuhan dan berikut pula dengan realitas masing-masing dari kehendak tersebut. Hubungan antara kehendak dan realitasnya itu sangatlah pasti dan tidak akan pernah berubah sepanjang zaman. Inilah yang disebut orang sebagai Hukum Tuhan, Sunatullah, yang oleh orang yang tidak sadar kepada Tuhan akan disebutnya hanya sebagai hukum alam biasa.
 
Padahal semua kejadian apapun juga, tidak lain dan tidak bukan adalah karena adanya Dzat Yang Memiliki KUN (Kehendak) lalu FA YAKUN…!. Ada sebuah Kehendak dari Sang Maha Berkendak yang mengalir menyapa setiap objek tempat Dia meletakkan berkehendak-Nya, maka lalu terjadilah proses yang tak tertahankan untuk mewujudkan Kehendak itu.
 
Lalu bagaimana hubungan antara kehendak manusia dan kehendak Tuhan…?. Apakah kita manusia ini memang punya kehendak atau tidak…?. Mari kita bahas.
 
Dalam artikel-artikel yang lalu saya sudah sering bahas, bahwa DADA manusia adalah Rumah Allah (Baitul Haram) tempat dimana Allah meletakkan berbagai Kehendak-Nya untuk “membentuk” peradaban manusia. Dada kita ini adalah sebuah alat yang diberikan Allah buat kita agar kita bisa menangkap berbagai Sabda Tuhan yang membentuk “ruangan-ruangan” yang memang sudah ditebarkan Allah disetiap titik yang ada dialam semesta ini. Persis “di depan” wajah kita masing-masing, sebenarnya sudah ada ruangan-ruangan yang disediakan Allah untuk kita masuki, atau lebih tepatnya kita didorong oleh Allah sendiri untuk memasukinya.
 
Di depan kita masing-masing, sudah ada Ruangan TAQWA berikut dengan segala turunannya, paling tidak, seperti ada ruangan ihsan, khusyuk, iman, ihklas, sabar, syukur, kasih, sayang, cinta. Tepat bersebarangan dengan ruangan taqwa itu ada Ruangan FUJUR berikut dengan segala variannya pula, seperti munafik, kafir (ter-cover), ria, gelisah, tidak khusyu, iri, dengki, marah, benci, dan sebagainya. Untuk mengetahui adanya ruangan-ruangan didepan kita, maka kita akan butuh alat yang tepat pula.
 
Ini tak ubahnya dengan peristiwa adanya daya-daya magnet yang ada di depan kita. Untuk mengetahui adanya medan magnet tersebut, maka kita akan butuh alat yang tepat untuk mencitranya, yaitu sebuah kompas. Dengan kompas, maka kita akan diperlihatkan bahwa di depan kita yang tadinya “seperti” tidak ada apa-apanya ternyata ada medan magnet. Mana…?. Tuh…!!!. Kita bisa mengetahui adanya medan magnet dengan adanya jarum kompas yang menunjukkan arah utara dan selatan. Makanya kompas dikatakan juga sebagai ayat, tanda-tanda akan adanya medan magnet. Akan tetapi kompas itu sendiri bukanlah magnet. Karena kompas itu hanyalah sebuah “benda” yang semata-mata berada dalam pengaruh medan magnet yang meliputinya dan kompas itupun akan selalu ikut apapun maunya medan magnet tersebut.
 
Akan tetapi akan menjadi lain, jika kita menggunakan alat yang tidak tepat untuk mengetahui keberadaan medan magnet tersebut. Jika yang kita gunakan adalah sepotong kayu, maka kita disebut sebagai orang yang salah dan tersesat dalam memakai alat bantu dari yang seharusnya. Dan sampai kapanpun kita tidak akan pernah menemukan medan magnet yang kita cari-cari tersebut.
 

Nah.., untuk mengetahui adanya suasana Ruangan TAQWA atau Ruangan FUJUR di depan kita, maka kita juga butuh alat yang tepat pula. Dan untuk keperluan tersebut, setiap manusia ternyata sudah dilengkapi oleh Allah dengan alat yang sangat sempurna. Alat itu adalah DADA kita, Baitul Haram. Ya…, hanya dengan dadalah kita baru akan bisa menangkap “Khattar” (getaran) ruangan taqwa dan fujur yang ada di depan kita masing-masing. Tidak bisa tidak. Makanya tatkala kita ingin memahami realitas taqwa dan fujur dengan menggunakan OTAK kita, maka yang kita temukan hanyalah orang-orang yang ahli tentang definisi taqwa dan fujur, taqwarologi, fujurologi. Jadi saat kita memakai otak kita untuk memahami suasana ruangan taqwa dan fujur itu, maka boleh jadi kita akan dikatakan sebagai orang yang tersesat juga. Suasana kok mau didefinsikan…

April 17, 2006

Rahasia Di Balik Materi

Filed under: Ruhiyah

“Apa yang kita lihat dan kita rasakan adalah semu dan hanya pantulan dari keindahan Allah swt”. (seorang imam besar pada jamannya)

“Sesungguhnya Allah swt tergantung dari prasangka kita”

 

Proses Penglihatan

Saat kita melihat sebuah benda maka cahaya dari benda tersebut ditangkap oleh mata kita dan diubah menjadi gelombang listrik yang kemudian diterjemahkan oleh otak menjadi sebuah gambar di dalam otak kita. Jadi proses tampaknya sebuah benda atau materi oleh kita adalah melalui gelombang listrik yang ada di dalam otak kita. Proses ini terjadi juga pada semua panca indra kita. Yaitu pendengaran, perasa (lidah), peraba (kulit) dan penciuman (hidung) sehingga kita mampu untuk menidentifikasi sesuatu yang berada diluar kita.

Ada pertanyaan menarik disini, bagaimana jadinya kalau kita bisa memanipulasi gelombang listrik sebelum sampai ke otak? Kita bayangkan kalau gelombang listrik yang sampai ke otak bukan dari mata kita atau panca indera lainnya tetapi berasal dari sebuah komputer. Komputer yang mengalirkan data (gelombang listrik) tentang sebuah benda atau kejadian, maka otak kita akan merespon data tersebut sebagai benda nyata seperti yang kita saksikan melalui mata kita. Dengan kata lain selama ini yang kita lihat dan kita rasa hanya dalam bentuk gelombang-gelombang listrik yang diterima oleh otak kita.

Hal yang paling penting disini adalah ketika kita bisa melihat otak kita. Katakanlah kepala Anda sedikit dibuka kemudian anda melihatnya melalui cermin, ini berarti bahwa otak kita juga sebuah benda seperti benda-benda lainnya yang kita lihat sehari-hari atau dengan kata lain semua yang kita lihat adalah ilusi termasuk otak kita. (more…)

Do’a Ketetapan Hati Dalam Hidayah

Filed under: free talk

 رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ اْلوَهَّابُ

[Robbanaa Laa Tuzigh Quluubanaa Ba’da Idz Hadaitanaa Wa Hab Lanaa Min Ladunka Rohmatan, Innaka Antal Wahhaab]

“Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, karena sesungguhnya Engkau Mahapemberi (karunia).” (QS.Ali ‘Imran:8)

April 15, 2006

Penyucian Jiwa

Filed under: Ruhiyah

Saudara-saudaraku, … sementara ini, saya anggap Saudara semua sudah mengerti tetang dasar-dasar agama, … persoalan-persoalan furuiyah (khilafiyah / perbedaan pendapat) mari kita kesampingkan dulu, … kita hadapkan hati kita dan wajah kita kehadirat Allah dengan penuh tawaddhu’ dan rasa ihsan. Seandainya kebetulan saudara adalah seorang yang mahir tentang agama sementara yang lain kurang dalam hal pengetahuan agama. Bisakah kiranya kita mencontoh sayyidina Bilal bin Rabah seorang budak berkulit hitam dan sayyidina Salman Alfarisi yang intelektualnya diacungi jempol oleh Rasulullah. Dimana keduanya sangat mencolok mata dari segi fisik dan derajat dimata manusia, namun keduanya duduk sama derajatnya di hadapan Allah tanpa melihat dia sebagai apa. Merekalah contoh orang yang mendapatkan petunjuk dan rasa iman yang tinggi serta kemakrifatan akan Tuhannya.

Saya mengingatkan kembali bahwa setiap tulisan saya, adalah bertujuan mengajak bersama-sama menelusuri kajian "Dzauq" atau kedalaman rasa iman, yang bahkan Rasulullah menyebutnya sebagai "halawatul iman" (manisnya iman )

Kajian pada bab-bab sebelumnya sudah saya jelaskan secara singkat mengenai syariat, etika Islam, dan hakikat manusia , dimana didalamnya tercantum persoalan dasar untuk menelusuri jalan Allah . Kita tinggal menjalaninya dengan perlahan dan sungguh-sungguh !!!

Yang pertama sekali kita perhatikan adalah sosok " JIWA" (more…)

April 13, 2006

Kisah Al Ghazaly

Filed under: Tauladan

Seorang pemikir, bagaimanapun, tidak dapat dilepaskan dari konteks sosio-kulturalnya. Hasil-hasil pemikiran, dalam kenyataaannya, tidaklah lahir dengan sendirinya, tetapi senantiasa mempunyai kaitan historis dengan pemikiran yang berkembang sebelumnya dan mempunyai hubungan dengan pemikiran yang ada pada zamannya. Asumsi ini berlaku juga pada Al Ghazaly. Kaitan historis pemikirannya dengan pemikiran cara pendahulunya dinyatakan sendiri dalam Al Munqidz Min Al Dhalal dan diperoleh melalui isyaratnya didalam Tahafut al Falasifat. Untuk mengetahui hubungan pemikiran Alghazaly dengan pemikiran yang berkembang pada zamannya, perlu diketahui suasana pemikiran waktu itu dan sikapnya terhadap kenyataan itu.

Al Ghazaly hidup ketika pemikiran di dunia Islam berada pada tingkat perkembangannya yang tinggi. Pemikiran-pemikiran tidak berhenti sebagai hasil olah budi individual, tetapi berkembang menjadi aliran-aliran dengan metode dan sistemnya masing-masing. Tingkat perkembangan ini memperlihatkan wujudnya dalam tingkat keragaman yang tinggi. Al Syahrani (w.548 H), pemikir yang sejaman dengan Al Ghazaly, menggambar-kan betapa banyaknya aliran pemikiran di dunia Islam pada waktu itu. Setiap aliran, menurut Al Ghazaly, mengklaim kebenaran pada dirinya, yang dengan sendirinya menempatkan aliran yang lain pada kedudukan yang tidak benar.

(more…)

Hakikat Manusia

Filed under: Ruhiyah

KESADARAN DIRI 

Didalam filsafat kontemporer secara hakiki terpusat pada pribadi manusia. Boleh jadi, tanpa situasi historis kita tidak bisa memahami apa dan esensi diri yang sebenarnya. Al Qur’an membuka pintu dunia baru, tentang kesadaran diri secara berurutan sampai kepada kesadaran yang universal. Ungkapan ini tidak terikat oleh suatu aliran tertentu, tetapi muncul ketika manusia dihadapkan pada persoalan untuk memikirkan eksistensi. Dimana keberadaannya bagaikan terlempar begitu saja. "Aku" yang kehilangan arah, berpaling dari dirinya sendiri, ia mawas diri dan menyelidiki dirinya. Demikianlah suatu motif yang mula-mula bersifat historis dan psikologis berubah menjadi suatu pertanyaan filosofis yang mendesak : "Siapakah aku ini? Dengan kegembiraan dan harapanku? Apakah tujuan hidup ini? Apakah artinya? Mengapa aku bereksistensi? Dan bukannya tidak bereksistensi?"

(more…)

fa al hamaha fujuraha wa taqwaha

Filed under: Dakwah

bismillahirohmanirohim,

"fa al hamaha fujuraha wa taqwaha" 

bacaan yang sering kita dengar… tapi banyak dari kita yang belum faham maksutnya…

mari kita coba untuk mengupasnya … 

"Al hamaha fujuraha" artinya Alloh memberikan kefahaman ke dalam jiwa orang kafir tentang kefujuran (kejahatan)

"wa taqwaha"  artinya  dan memberikan kefahaman tentang ketaqwaan kepada orang yang beriman

 Alloh memberikan pengetahuan terhadap jiwa tentang kejahatan dan ketaqwaan dan menjelaskan mana yang berupa petunjuk dari Alloh (ilham dari Alloh) dan mana petunjuk jalan kesesatan (ilham dari setan).

bahkan ibnu Abbas berkata "Alloh memberikan penjelasan tentang kebaikan dan keburukan serta ketaatan dan pengingkaran (maksiat) ke dalam jiwanya. Dan Alloh memberikan pengetahuan (ilham) apa-apa yg terjadi pada masa akan datang dan menguatkannya"

 Jadi, kondisi kejahatan jiwa kita ternyata bukan melalui proses berfikir. Ia begitu cepat masuk ke dalam jiwa, dimana fikiran belum sempat untuk mencegahnya, kejahatan itu sudah ada bermukim dalam jiwa, demikian juga sebaliknya. Potensi jiwa yang jahat dan jiwa yang dirahmati Alloh… keduanya bisa saling bersaing menempati singgasana jiwa untuk menjadi penguasa yang akan mengendalikan kehidupan kita.

 Pada ayat tsb dijelaskan bahwa fa al hamaha fujuraha wa taqwaha ilham itu datang berupa kejahatan (fujur) kemudian pada ayat berikutnya terdapat kata waw athaf (wa) yang menguatkan bahwa ketaqwaan (kebaikan) juga merupakan ilham dari Alloh, bukan hasil rekayasa pikiran. Oleh karena itu, tidak masuk akan jika keimanan itu dimulai dengan akal pikiran, dan akan sangat aneh bila kita mencoba meniru ciri-ciri orang yang beriman yaitu harus menggetar-getarkan hati kita, jika disebut nama Alloh (Al-Anfaal, 8 ayat 2), atau kita mencoba meniru menangis histeris apabila mendengar asma Alloh disebut (Maryam,19 ayat 58). selain itu kalau kita perhatikan lebih jauh, dalam ayat-ayat yang berkaitan dengan pengalaman orang-orang beriman tidak terdapat kata perintah (al amr) atau larangan (al nahyu), akan tetapi dijelaskan sebagai hal (experience), dan biasanya menggunakan kata qad untuk penegasan keadaan, yang terjadi sebenarnya atau dialami, jadi bukan untuk ditiru tetapi ‘dialami’, seperti pada "qad aflahal mu’minun. Alladziinahum fii shalatihim khaasyi’uun" yang artinya "Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya"

barokallohu… 

semoga Alloh meridho’i jalan dakwah ini dan semoga bermanfaat buat para pembaca yang budiman.

wass,

Arif Rudiyanto emoticon

wa amanu wa hajaru wa jahadu…