wa amanu wa hajaru wa jahadu …

April 13, 2006

Kisah Al Ghazaly

Filed under: Tauladan

Seorang pemikir, bagaimanapun, tidak dapat dilepaskan dari konteks sosio-kulturalnya. Hasil-hasil pemikiran, dalam kenyataaannya, tidaklah lahir dengan sendirinya, tetapi senantiasa mempunyai kaitan historis dengan pemikiran yang berkembang sebelumnya dan mempunyai hubungan dengan pemikiran yang ada pada zamannya. Asumsi ini berlaku juga pada Al Ghazaly. Kaitan historis pemikirannya dengan pemikiran cara pendahulunya dinyatakan sendiri dalam Al Munqidz Min Al Dhalal dan diperoleh melalui isyaratnya didalam Tahafut al Falasifat. Untuk mengetahui hubungan pemikiran Alghazaly dengan pemikiran yang berkembang pada zamannya, perlu diketahui suasana pemikiran waktu itu dan sikapnya terhadap kenyataan itu.

Al Ghazaly hidup ketika pemikiran di dunia Islam berada pada tingkat perkembangannya yang tinggi. Pemikiran-pemikiran tidak berhenti sebagai hasil olah budi individual, tetapi berkembang menjadi aliran-aliran dengan metode dan sistemnya masing-masing. Tingkat perkembangan ini memperlihatkan wujudnya dalam tingkat keragaman yang tinggi. Al Syahrani (w.548 H), pemikir yang sejaman dengan Al Ghazaly, menggambar-kan betapa banyaknya aliran pemikiran di dunia Islam pada waktu itu. Setiap aliran, menurut Al Ghazaly, mengklaim kebenaran pada dirinya, yang dengan sendirinya menempatkan aliran yang lain pada kedudukan yang tidak benar.

(more…)

Hakikat Manusia

Filed under: Ruhiyah

KESADARAN DIRI 

Didalam filsafat kontemporer secara hakiki terpusat pada pribadi manusia. Boleh jadi, tanpa situasi historis kita tidak bisa memahami apa dan esensi diri yang sebenarnya. Al Qur’an membuka pintu dunia baru, tentang kesadaran diri secara berurutan sampai kepada kesadaran yang universal. Ungkapan ini tidak terikat oleh suatu aliran tertentu, tetapi muncul ketika manusia dihadapkan pada persoalan untuk memikirkan eksistensi. Dimana keberadaannya bagaikan terlempar begitu saja. "Aku" yang kehilangan arah, berpaling dari dirinya sendiri, ia mawas diri dan menyelidiki dirinya. Demikianlah suatu motif yang mula-mula bersifat historis dan psikologis berubah menjadi suatu pertanyaan filosofis yang mendesak : "Siapakah aku ini? Dengan kegembiraan dan harapanku? Apakah tujuan hidup ini? Apakah artinya? Mengapa aku bereksistensi? Dan bukannya tidak bereksistensi?"

(more…)

fa al hamaha fujuraha wa taqwaha

Filed under: Dakwah

bismillahirohmanirohim,

"fa al hamaha fujuraha wa taqwaha" 

bacaan yang sering kita dengar… tapi banyak dari kita yang belum faham maksutnya…

mari kita coba untuk mengupasnya … 

"Al hamaha fujuraha" artinya Alloh memberikan kefahaman ke dalam jiwa orang kafir tentang kefujuran (kejahatan)

"wa taqwaha"  artinya  dan memberikan kefahaman tentang ketaqwaan kepada orang yang beriman

 Alloh memberikan pengetahuan terhadap jiwa tentang kejahatan dan ketaqwaan dan menjelaskan mana yang berupa petunjuk dari Alloh (ilham dari Alloh) dan mana petunjuk jalan kesesatan (ilham dari setan).

bahkan ibnu Abbas berkata "Alloh memberikan penjelasan tentang kebaikan dan keburukan serta ketaatan dan pengingkaran (maksiat) ke dalam jiwanya. Dan Alloh memberikan pengetahuan (ilham) apa-apa yg terjadi pada masa akan datang dan menguatkannya"

 Jadi, kondisi kejahatan jiwa kita ternyata bukan melalui proses berfikir. Ia begitu cepat masuk ke dalam jiwa, dimana fikiran belum sempat untuk mencegahnya, kejahatan itu sudah ada bermukim dalam jiwa, demikian juga sebaliknya. Potensi jiwa yang jahat dan jiwa yang dirahmati Alloh… keduanya bisa saling bersaing menempati singgasana jiwa untuk menjadi penguasa yang akan mengendalikan kehidupan kita.

 Pada ayat tsb dijelaskan bahwa fa al hamaha fujuraha wa taqwaha ilham itu datang berupa kejahatan (fujur) kemudian pada ayat berikutnya terdapat kata waw athaf (wa) yang menguatkan bahwa ketaqwaan (kebaikan) juga merupakan ilham dari Alloh, bukan hasil rekayasa pikiran. Oleh karena itu, tidak masuk akan jika keimanan itu dimulai dengan akal pikiran, dan akan sangat aneh bila kita mencoba meniru ciri-ciri orang yang beriman yaitu harus menggetar-getarkan hati kita, jika disebut nama Alloh (Al-Anfaal, 8 ayat 2), atau kita mencoba meniru menangis histeris apabila mendengar asma Alloh disebut (Maryam,19 ayat 58). selain itu kalau kita perhatikan lebih jauh, dalam ayat-ayat yang berkaitan dengan pengalaman orang-orang beriman tidak terdapat kata perintah (al amr) atau larangan (al nahyu), akan tetapi dijelaskan sebagai hal (experience), dan biasanya menggunakan kata qad untuk penegasan keadaan, yang terjadi sebenarnya atau dialami, jadi bukan untuk ditiru tetapi ‘dialami’, seperti pada "qad aflahal mu’minun. Alladziinahum fii shalatihim khaasyi’uun" yang artinya "Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya"

barokallohu… 

semoga Alloh meridho’i jalan dakwah ini dan semoga bermanfaat buat para pembaca yang budiman.

wass,

Arif Rudiyanto emoticon

wa amanu wa hajaru wa jahadu…

 

 

Belajar Mencintai Seseorang Yg Tdk Sempurna Dgn Cara Yg Sempurna

Filed under: free talk

Ketika kita bertemu orang yang tepat untuk dicintai, Ketika kita berada di tempat pada saat yang tepat, Itulah kesempatan. Ketika kita bertemu dengan seseorang yang membuatmu tertarik, Itu bukan pilihan, itu kesempatan. Bertemu dalam suatu peristiwa bukanlah pilihan, Itupun adalah kesempatan.

Bila kita memutuskan untuk mencintai orang tersebut, Bahkan dengan segala kekurangannya, Itu bukan kesempatan, itu adalah pilihan. Ketika kita memilih bersama dengan seseorang walaupun apapun yang terjadi, Itu adalah pilihan. Bahkan ketika kita menyadari bahwa masih banyak orang lain Yang lebih menarik, lebih pandai, lebih kaya daripada pasanganmu Dan tetap memilih untuk mencintainya, Itulah pilihan.
(more…)

Hati

Filed under: Ruhiyah

Banyak ahli muslim terutama yang memperhatikan masalah akhlak kepada Allah, mengemukakan bahwa hati manusia merupakan kunci pokok pembahasan menuju pengetahuan tentang Tuhan. Hati, sebagai pintu dan sarana Tuhan memperkenalkan kesempurnaan diri-Nya. "Tidak dapat memuat dzat-Ku bumi dan langit-Ku, kecuali "Hati" hamba-Ku yang mukmin, lunak dan tenang (HR Abu Dawud ). Hanya melalui "hati manusialah" keseimbangan sejati antara Tuhan dan kosmos bisa dicapai.

(more…)

Rasa

Filed under: Ruhiyah

Sebelum saya menjelaskan masalah rasa lebih lanjut, sebaiknya kita mendasari pembicaraan ini dengan QS.surat Al hijr : 29;

Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya , dan telah meniupkan kedalamnya RUH-KU, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.

(more…)