fa al hamaha fujuraha wa taqwaha
bismillahirohmanirohim,
"fa al hamaha fujuraha wa taqwaha"
bacaan yang sering kita dengar… tapi banyak dari kita yang belum faham maksutnya…
mari kita coba untuk mengupasnya …
"Al hamaha fujuraha" artinya Alloh memberikan kefahaman ke dalam jiwa orang kafir tentang kefujuran (kejahatan)
"wa taqwaha" artinya dan memberikan kefahaman tentang ketaqwaan kepada orang yang beriman
Alloh memberikan pengetahuan terhadap jiwa tentang kejahatan dan ketaqwaan dan menjelaskan mana yang berupa petunjuk dari Alloh (ilham dari Alloh) dan mana petunjuk jalan kesesatan (ilham dari setan).
bahkan ibnu Abbas berkata "Alloh memberikan penjelasan tentang kebaikan dan keburukan serta ketaatan dan pengingkaran (maksiat) ke dalam jiwanya. Dan Alloh memberikan pengetahuan (ilham) apa-apa yg terjadi pada masa akan datang dan menguatkannya"
Jadi, kondisi kejahatan jiwa kita ternyata bukan melalui proses berfikir. Ia begitu cepat masuk ke dalam jiwa, dimana fikiran belum sempat untuk mencegahnya, kejahatan itu sudah ada bermukim dalam jiwa, demikian juga sebaliknya. Potensi jiwa yang jahat dan jiwa yang dirahmati Alloh… keduanya bisa saling bersaing menempati singgasana jiwa untuk menjadi penguasa yang akan mengendalikan kehidupan kita.
Pada ayat tsb dijelaskan bahwa fa al hamaha fujuraha wa taqwaha ilham itu datang berupa kejahatan (fujur) kemudian pada ayat berikutnya terdapat kata waw athaf (wa) yang menguatkan bahwa ketaqwaan (kebaikan) juga merupakan ilham dari Alloh, bukan hasil rekayasa pikiran. Oleh karena itu, tidak masuk akan jika keimanan itu dimulai dengan akal pikiran, dan akan sangat aneh bila kita mencoba meniru ciri-ciri orang yang beriman yaitu harus menggetar-getarkan hati kita, jika disebut nama Alloh (Al-Anfaal, 8 ayat 2), atau kita mencoba meniru menangis histeris apabila mendengar asma Alloh disebut (Maryam,19 ayat 58). selain itu kalau kita perhatikan lebih jauh, dalam ayat-ayat yang berkaitan dengan pengalaman orang-orang beriman tidak terdapat kata perintah (al amr) atau larangan (al nahyu), akan tetapi dijelaskan sebagai hal (experience), dan biasanya menggunakan kata qad untuk penegasan keadaan, yang terjadi sebenarnya atau dialami, jadi bukan untuk ditiru tetapi ‘dialami’, seperti pada "qad aflahal mu’minun. Alladziinahum fii shalatihim khaasyi’uun" yang artinya "Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya"
barokallohu…
semoga Alloh meridho’i jalan dakwah ini dan semoga bermanfaat buat para pembaca yang budiman.
wass,
Arif Rudiyanto 
wa amanu wa hajaru wa jahadu…
semoga kita semua selalu dituntun Allah amien
Comment by ahmad r dhonny — April 13, 2006 @ 2:59 am