wa amanu wa hajaru wa jahadu …

April 21, 2006

Tentang Kehendak - 1

Filed under: Ruhiyah, Dakwah

Assalamualaykum, 

o        Apakah manusia memiliki kehendak?, atau semua berjalan sesuai kehendakNya?. Jika  manusia bisa berkehendak, bukankah berarti ada dua otoritas besar di  alam ?. Apakah tidak berarti bahwa sebenarnya ada banyak Dzat ?.

o        Satu  lagi, mengapa Alloh begitu dahsyat siksanya ? padahal filosof barat  menyebutkan bahwa dzat (forma) tertinggi  adalah kebaikan ?. Jadi  bagaimana jika masih ada dzat yang baik dan dzat yang kejam siksanya ?



Sebenarnya Allah sudah meletakkan Kehendak-Nya di hadapan setiap orang. Di depan kita masing-masing, sudah ada ruangan yang berisikan berbagai kehendak Tuhan dan berikut pula dengan realitas masing-masing dari kehendak tersebut. Hubungan antara kehendak dan realitasnya itu sangatlah pasti dan tidak akan pernah berubah sepanjang zaman. Inilah yang disebut orang sebagai Hukum Tuhan, Sunatullah, yang oleh orang yang tidak sadar kepada Tuhan akan disebutnya hanya sebagai hukum alam biasa.
 
Padahal semua kejadian apapun juga, tidak lain dan tidak bukan adalah karena adanya Dzat Yang Memiliki KUN (Kehendak) lalu FA YAKUN…!. Ada sebuah Kehendak dari Sang Maha Berkendak yang mengalir menyapa setiap objek tempat Dia meletakkan berkehendak-Nya, maka lalu terjadilah proses yang tak tertahankan untuk mewujudkan Kehendak itu.
 
Lalu bagaimana hubungan antara kehendak manusia dan kehendak Tuhan…?. Apakah kita manusia ini memang punya kehendak atau tidak…?. Mari kita bahas.
 
Dalam artikel-artikel yang lalu saya sudah sering bahas, bahwa DADA manusia adalah Rumah Allah (Baitul Haram) tempat dimana Allah meletakkan berbagai Kehendak-Nya untuk “membentuk” peradaban manusia. Dada kita ini adalah sebuah alat yang diberikan Allah buat kita agar kita bisa menangkap berbagai Sabda Tuhan yang membentuk “ruangan-ruangan” yang memang sudah ditebarkan Allah disetiap titik yang ada dialam semesta ini. Persis “di depan” wajah kita masing-masing, sebenarnya sudah ada ruangan-ruangan yang disediakan Allah untuk kita masuki, atau lebih tepatnya kita didorong oleh Allah sendiri untuk memasukinya.
 
Di depan kita masing-masing, sudah ada Ruangan TAQWA berikut dengan segala turunannya, paling tidak, seperti ada ruangan ihsan, khusyuk, iman, ihklas, sabar, syukur, kasih, sayang, cinta. Tepat bersebarangan dengan ruangan taqwa itu ada Ruangan FUJUR berikut dengan segala variannya pula, seperti munafik, kafir (ter-cover), ria, gelisah, tidak khusyu, iri, dengki, marah, benci, dan sebagainya. Untuk mengetahui adanya ruangan-ruangan didepan kita, maka kita akan butuh alat yang tepat pula.
 
Ini tak ubahnya dengan peristiwa adanya daya-daya magnet yang ada di depan kita. Untuk mengetahui adanya medan magnet tersebut, maka kita akan butuh alat yang tepat untuk mencitranya, yaitu sebuah kompas. Dengan kompas, maka kita akan diperlihatkan bahwa di depan kita yang tadinya “seperti” tidak ada apa-apanya ternyata ada medan magnet. Mana…?. Tuh…!!!. Kita bisa mengetahui adanya medan magnet dengan adanya jarum kompas yang menunjukkan arah utara dan selatan. Makanya kompas dikatakan juga sebagai ayat, tanda-tanda akan adanya medan magnet. Akan tetapi kompas itu sendiri bukanlah magnet. Karena kompas itu hanyalah sebuah “benda” yang semata-mata berada dalam pengaruh medan magnet yang meliputinya dan kompas itupun akan selalu ikut apapun maunya medan magnet tersebut.
 
Akan tetapi akan menjadi lain, jika kita menggunakan alat yang tidak tepat untuk mengetahui keberadaan medan magnet tersebut. Jika yang kita gunakan adalah sepotong kayu, maka kita disebut sebagai orang yang salah dan tersesat dalam memakai alat bantu dari yang seharusnya. Dan sampai kapanpun kita tidak akan pernah menemukan medan magnet yang kita cari-cari tersebut.
 

Nah.., untuk mengetahui adanya suasana Ruangan TAQWA atau Ruangan FUJUR di depan kita, maka kita juga butuh alat yang tepat pula. Dan untuk keperluan tersebut, setiap manusia ternyata sudah dilengkapi oleh Allah dengan alat yang sangat sempurna. Alat itu adalah DADA kita, Baitul Haram. Ya…, hanya dengan dadalah kita baru akan bisa menangkap “Khattar” (getaran) ruangan taqwa dan fujur yang ada di depan kita masing-masing. Tidak bisa tidak. Makanya tatkala kita ingin memahami realitas taqwa dan fujur dengan menggunakan OTAK kita, maka yang kita temukan hanyalah orang-orang yang ahli tentang definisi taqwa dan fujur, taqwarologi, fujurologi. Jadi saat kita memakai otak kita untuk memahami suasana ruangan taqwa dan fujur itu, maka boleh jadi kita akan dikatakan sebagai orang yang tersesat juga. Suasana kok mau didefinsikan…

April 17, 2006

Rahasia Di Balik Materi

Filed under: Ruhiyah

“Apa yang kita lihat dan kita rasakan adalah semu dan hanya pantulan dari keindahan Allah swt”. (seorang imam besar pada jamannya)

“Sesungguhnya Allah swt tergantung dari prasangka kita”

 

Proses Penglihatan

Saat kita melihat sebuah benda maka cahaya dari benda tersebut ditangkap oleh mata kita dan diubah menjadi gelombang listrik yang kemudian diterjemahkan oleh otak menjadi sebuah gambar di dalam otak kita. Jadi proses tampaknya sebuah benda atau materi oleh kita adalah melalui gelombang listrik yang ada di dalam otak kita. Proses ini terjadi juga pada semua panca indra kita. Yaitu pendengaran, perasa (lidah), peraba (kulit) dan penciuman (hidung) sehingga kita mampu untuk menidentifikasi sesuatu yang berada diluar kita.

Ada pertanyaan menarik disini, bagaimana jadinya kalau kita bisa memanipulasi gelombang listrik sebelum sampai ke otak? Kita bayangkan kalau gelombang listrik yang sampai ke otak bukan dari mata kita atau panca indera lainnya tetapi berasal dari sebuah komputer. Komputer yang mengalirkan data (gelombang listrik) tentang sebuah benda atau kejadian, maka otak kita akan merespon data tersebut sebagai benda nyata seperti yang kita saksikan melalui mata kita. Dengan kata lain selama ini yang kita lihat dan kita rasa hanya dalam bentuk gelombang-gelombang listrik yang diterima oleh otak kita.

Hal yang paling penting disini adalah ketika kita bisa melihat otak kita. Katakanlah kepala Anda sedikit dibuka kemudian anda melihatnya melalui cermin, ini berarti bahwa otak kita juga sebuah benda seperti benda-benda lainnya yang kita lihat sehari-hari atau dengan kata lain semua yang kita lihat adalah ilusi termasuk otak kita. (more…)

April 15, 2006

Penyucian Jiwa

Filed under: Ruhiyah

Saudara-saudaraku, … sementara ini, saya anggap Saudara semua sudah mengerti tetang dasar-dasar agama, … persoalan-persoalan furuiyah (khilafiyah / perbedaan pendapat) mari kita kesampingkan dulu, … kita hadapkan hati kita dan wajah kita kehadirat Allah dengan penuh tawaddhu’ dan rasa ihsan. Seandainya kebetulan saudara adalah seorang yang mahir tentang agama sementara yang lain kurang dalam hal pengetahuan agama. Bisakah kiranya kita mencontoh sayyidina Bilal bin Rabah seorang budak berkulit hitam dan sayyidina Salman Alfarisi yang intelektualnya diacungi jempol oleh Rasulullah. Dimana keduanya sangat mencolok mata dari segi fisik dan derajat dimata manusia, namun keduanya duduk sama derajatnya di hadapan Allah tanpa melihat dia sebagai apa. Merekalah contoh orang yang mendapatkan petunjuk dan rasa iman yang tinggi serta kemakrifatan akan Tuhannya.

Saya mengingatkan kembali bahwa setiap tulisan saya, adalah bertujuan mengajak bersama-sama menelusuri kajian "Dzauq" atau kedalaman rasa iman, yang bahkan Rasulullah menyebutnya sebagai "halawatul iman" (manisnya iman )

Kajian pada bab-bab sebelumnya sudah saya jelaskan secara singkat mengenai syariat, etika Islam, dan hakikat manusia , dimana didalamnya tercantum persoalan dasar untuk menelusuri jalan Allah . Kita tinggal menjalaninya dengan perlahan dan sungguh-sungguh !!!

Yang pertama sekali kita perhatikan adalah sosok " JIWA" (more…)

April 13, 2006

Hakikat Manusia

Filed under: Ruhiyah

KESADARAN DIRI 

Didalam filsafat kontemporer secara hakiki terpusat pada pribadi manusia. Boleh jadi, tanpa situasi historis kita tidak bisa memahami apa dan esensi diri yang sebenarnya. Al Qur’an membuka pintu dunia baru, tentang kesadaran diri secara berurutan sampai kepada kesadaran yang universal. Ungkapan ini tidak terikat oleh suatu aliran tertentu, tetapi muncul ketika manusia dihadapkan pada persoalan untuk memikirkan eksistensi. Dimana keberadaannya bagaikan terlempar begitu saja. "Aku" yang kehilangan arah, berpaling dari dirinya sendiri, ia mawas diri dan menyelidiki dirinya. Demikianlah suatu motif yang mula-mula bersifat historis dan psikologis berubah menjadi suatu pertanyaan filosofis yang mendesak : "Siapakah aku ini? Dengan kegembiraan dan harapanku? Apakah tujuan hidup ini? Apakah artinya? Mengapa aku bereksistensi? Dan bukannya tidak bereksistensi?"

(more…)

Hati

Filed under: Ruhiyah

Banyak ahli muslim terutama yang memperhatikan masalah akhlak kepada Allah, mengemukakan bahwa hati manusia merupakan kunci pokok pembahasan menuju pengetahuan tentang Tuhan. Hati, sebagai pintu dan sarana Tuhan memperkenalkan kesempurnaan diri-Nya. "Tidak dapat memuat dzat-Ku bumi dan langit-Ku, kecuali "Hati" hamba-Ku yang mukmin, lunak dan tenang (HR Abu Dawud ). Hanya melalui "hati manusialah" keseimbangan sejati antara Tuhan dan kosmos bisa dicapai.

(more…)

Rasa

Filed under: Ruhiyah

Sebelum saya menjelaskan masalah rasa lebih lanjut, sebaiknya kita mendasari pembicaraan ini dengan QS.surat Al hijr : 29;

Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya , dan telah meniupkan kedalamnya RUH-KU, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.

(more…)

April 12, 2006

Membuka Hijab

Filed under: Ruhiyah

Istilah hijab sebenarnya baru muncul setelah orang mulai serius mendalami pengetahuan tentang ma’rifatullah, segala cara amalan ibadah diterapkan untuk memudahkan sampainya seseorang kepada tingkat mukhlasin. Yaitu orang yang benar-benar berada dalam keadaan rela dan menerima Allah sebagai Tuhannya secara transenden. Amalan amalan ibadah yang mereka lakukan merupakan kutipan-kutipan perintah ibadah sunnah maupun yang wajib. Sehingga mereka menyakininya bahwa mutiara-mutira Al Qur’an itu memang benar adanya.

(more…)

Perjalanan Menuju Ilahi

Filed under: Ruhiyah

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, yang Maha Mengetahui seluruh rahasia tersembunyi dan dimana hati mukminin bergetar tatkala mendengar asma-Nya. Shalawat dan salam semoga tercurah pada penghulu sekalian Rasul, penyempurna risalah Ilahi beserta keluarganya.

Saya ucapkan banyak terima kasih atas partisipasi rekan jamaah dzikrullah di nusantara dalam kontribusinya pada syiar Islam di bidangnya masing-masing. Kepada bapak H. Slamet Oetomo, saya juga menghaturkan terima kasih atas wejangannya yang bermanfaat dalam perjalanan menuju ke hadirat Ilahi.

Dalam kesempatan ini, saya akan sampaikan perjalanan pengalaman keruhanian saya (Abu Sangkan) serta apa dan bagaimana wejangan H. Slamet Oetomo tersebut. Sebelum saya bertemu dengan pak Haji, demikian H. Slamet Oetomo biasa dipanggil, saya tinggal di sebuah pesantren di Bogor. Sebuah pesantren yang menekankan nilai-nilai ajaran tasawuf Imam Al Ghazaly. Kami dikondisikan dengan suasana nizham tasawuf yang cukup ketat.

(more…)

Berguru Kepada Alloh

Filed under: Ruhiyah

Kalimat "berguru kepada Allah" terasa asing di telinga kebanyakan orang. namun saya terdorong untuk menggunakannya sebagai topik bahasan yang ingin saya paparkan. Saya melihat dari sisi yang lain dari setiap pengajaran suatu ilmu yang disampaikan oleh para guru maupun para pakar. Mereka adalah orang-orang yang mendapatkan ilmu dari membaca buku yang tersusun dari huruf-huruf maupun membaca dari setiap kejadian-kejadian unik dari fenomena alam semesta ini. Apabila kita perhatikan surat Al ‘Alaq ayat 1-5, Allah menjelaskan apa yang dimaksud dengan kata "membaca" : "Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah , Bacalah, dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam, Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya" (QS 96:1-5) Ayat di atas jelas sekali bagaimana Allah mengajarkan membaca dengan melihat suatu kejadian penciptaan "manusia" mulai dari bentuk mudhgah (segumpal darah) hingga menjadi bentuk manusia yang sempurna. (more…)